Hakikat Membangun Bangsa
Dalam dialog-dialog yang diadakan ada beberapa hal yang menarik perhatian yakni penegasan Menteri PDT agar masyarakat menjaga kebun karetnya dengan mengambil tamsil dari penyesalan masyarakat yang menebang cengkeh ketika harga cengkeh melemah. Kebenaran ucapan sang menteri tersebut karena banyak sekali masyarakat yang menyesali pembabatan batang cengkehnya yang saat itu diprakarsai oleh Tommy Soeharto dengan harga ganti rugi yang sangat murah.
Namun karena harga karet yang saat ini rendah, masyarakat kemudian mengusulkan agar Menteri PDT bersedia membantu mereka dalam budidaya karamba untuk kehidupan mereka sekarang sementara replanting kebun untuk ekonomi masa depan.
Berbagai proposal yang diajukan masyarakat pada umumnya dilatarbelakangi kehidupan mereka yang sangat terbelakang. Namun, pada akhirnya proposal tersebut sering kali mengecewakan, karena para pejabat dan politisi kemudian cenderung mengabulkan proposal untuk suatu kegiatan seremonial baik kegiatan di bidang olah raga maupun kesenian, karena dengan mengabulkan satu kegiatan mereka dapat mengeluarkan uang yang lebih sedikit sementara efeknya lebih besar. Sedikit lebih maju, ada pejabat/politisi yang tidak begitu tertarik dengan kegiatan-kegiatan populis seperti itu, namun pada kegiatan pembangunan yang akibatnya bisa permanen dan dinikmati banyak orang yakni pembangunan infrastruktur. Namun lagi-lagi kita dapat melihat, bahwa pembangunan infrastruktur seperti itu juga akhirnya sia-sia, karena para politisi kemudian memperjuangkan kuantitas daripada kualitas. Pada akhirnya pembangunan tersebut juga sia-sia, karena pemanfaatan dari infrastruktur tersebut juga tidak lama.
Hanya satu dari 100 proyek infrastruktur yang betul-betul berarti. Namun, manfaat dari infrastruktur yang terbangun bagi masyarakat tempatan juga kadang-kadang kurang. Banyak jembatan dibangun, tapi kendaraan yang melintasinya bukan kendaraan masyarakat lokal. Banyak pasar megah dibangun, tetapi masyarakat yang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan pasar tersebut, justeru tidak punya uang untuk berbelanja di pasar yang baru terbangun. Lalu bagaimanakah arah kebijakan pembangunan yang benar?
Pembangunan yang berarti adalah pembangunan masyarakat. Membangun masyarakat berarti membangun wawasan dan keterampilannya melalui pendidikan dan pelatihan. Membangun perekonomiannya melalui bantuan permodalan, pemasaran, peningkatan teknologi produksi. Jika ekonomi masyarakat terangkat, berbagai turnamen dan pembangunan infrastruktur bisa mereka bangun/selenggarakan baik secara langsung melalui swadaya mereka maupun secara tidak langsung dari kontribusi pajak yang mereka bayarkan. Namun, pembangunan masyarakat mungkin pilihan yang terakhir bagi pejabat/politisi, karena progress dari pembangunan masyarakat atau bangsa tidak dapat terlihat secara kasat mata terutama pada masa bantuan diberikan, progress dari bantuan ini hanya dapat terlihat pada masa depan. Tapi membangun masa depan bangsa, justru sebenarnya jauh lebih penting. Daripada membangun jembatan, lebih penting lagi membangun mereka-mereka yang akan melintasi jembatan.
Dalam dialog-dialog yang diadakan ada beberapa hal yang menarik perhatian yakni penegasan Menteri PDT agar masyarakat menjaga kebun karetnya dengan mengambil tamsil dari penyesalan masyarakat yang menebang cengkeh ketika harga cengkeh melemah. Kebenaran ucapan sang menteri tersebut karena banyak sekali masyarakat yang menyesali pembabatan batang cengkehnya yang saat itu diprakarsai oleh Tommy Soeharto dengan harga ganti rugi yang sangat murah.
Namun karena harga karet yang saat ini rendah, masyarakat kemudian mengusulkan agar Menteri PDT bersedia membantu mereka dalam budidaya karamba untuk kehidupan mereka sekarang sementara replanting kebun untuk ekonomi masa depan.
Berbagai proposal yang diajukan masyarakat pada umumnya dilatarbelakangi kehidupan mereka yang sangat terbelakang. Namun, pada akhirnya proposal tersebut sering kali mengecewakan, karena para pejabat dan politisi kemudian cenderung mengabulkan proposal untuk suatu kegiatan seremonial baik kegiatan di bidang olah raga maupun kesenian, karena dengan mengabulkan satu kegiatan mereka dapat mengeluarkan uang yang lebih sedikit sementara efeknya lebih besar. Sedikit lebih maju, ada pejabat/politisi yang tidak begitu tertarik dengan kegiatan-kegiatan populis seperti itu, namun pada kegiatan pembangunan yang akibatnya bisa permanen dan dinikmati banyak orang yakni pembangunan infrastruktur. Namun lagi-lagi kita dapat melihat, bahwa pembangunan infrastruktur seperti itu juga akhirnya sia-sia, karena para politisi kemudian memperjuangkan kuantitas daripada kualitas. Pada akhirnya pembangunan tersebut juga sia-sia, karena pemanfaatan dari infrastruktur tersebut juga tidak lama.
Hanya satu dari 100 proyek infrastruktur yang betul-betul berarti. Namun, manfaat dari infrastruktur yang terbangun bagi masyarakat tempatan juga kadang-kadang kurang. Banyak jembatan dibangun, tapi kendaraan yang melintasinya bukan kendaraan masyarakat lokal. Banyak pasar megah dibangun, tetapi masyarakat yang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan pasar tersebut, justeru tidak punya uang untuk berbelanja di pasar yang baru terbangun. Lalu bagaimanakah arah kebijakan pembangunan yang benar?
Pembangunan yang berarti adalah pembangunan masyarakat. Membangun masyarakat berarti membangun wawasan dan keterampilannya melalui pendidikan dan pelatihan. Membangun perekonomiannya melalui bantuan permodalan, pemasaran, peningkatan teknologi produksi. Jika ekonomi masyarakat terangkat, berbagai turnamen dan pembangunan infrastruktur bisa mereka bangun/selenggarakan baik secara langsung melalui swadaya mereka maupun secara tidak langsung dari kontribusi pajak yang mereka bayarkan. Namun, pembangunan masyarakat mungkin pilihan yang terakhir bagi pejabat/politisi, karena progress dari pembangunan masyarakat atau bangsa tidak dapat terlihat secara kasat mata terutama pada masa bantuan diberikan, progress dari bantuan ini hanya dapat terlihat pada masa depan. Tapi membangun masa depan bangsa, justru sebenarnya jauh lebih penting. Daripada membangun jembatan, lebih penting lagi membangun mereka-mereka yang akan melintasi jembatan.
0 komentar:
Post a Comment